Sabtu, 06 Juni 2020

Harus Kuat Mencintai Proses



Proses menunggu, proses menanti, dan beragam proses harap-harap cemas lainnya, adalah esensi tugas ubudiyah manusia dihidupkan di dunia. Wajar jika kita harus menunggu. Entah menunggu apa. Entah menanti siapa.  

Kenapa menanam pohon butuh waktu yang lama agar ia bisa menjadi besar? Kenapa petani butuh waktu berbulan-bulan untuk memanen padinya? Padahal, mudah sekali bagi Allah SWT untuk segera membesarkan pohon dan mempercepat proses panen.

Kenapa sebelum menjadi orang yang matang dan dewasa, manusia harus melewati fase bayi mungil? fase balita? fase remaja? Padahal, kalau mau, mudah sekali bagi Allah SWT membuat kita ujug-ujug langsung menjadi orang dewasa.

Barangkali, tiap fase itu penting. Tiap fase itu punya nilainya sendiri. Yang mana, andai ada satu saja fase yang hilang, nilainya akan berkurang.

Kita, misalnya, andai dihidupkan ujug-ujug menjadi orang dewasa, pasti tidak enak. Sebab, ada masa anak kecil dan remaja yang hilang. Perihal lain di dalam hidup, kayaknya kok punya cara kerja yang mirip.

Sendiri sebelum tergenapi, libur panjang sebelum masuk lagi, ragu sebelum mantap, mentah sebelum siap disantap; adalah contoh betapa sesungguhnya, pada bagian terkecil dalam hidup pun, ada proses dan fase yang harus dihadapi dan dialami.

Berada di rumah selama berbulan-bulan tanpa ada kepastian kapan harus berangkat ke sekolah lagi, adalah proses. Menunggu sesuatu selama bertahun-tahun dan belum ada kabar kepastian, adalah sebuah proses.

Musim corona yang tak segera usai, libur panjang yang tak segera menemui titik selesai, adalah bukti kecil betapa semua hal dalam hidup ini butuh proses yang menuntut kesabaran.

Sepertinya, hidup akan selalu membenturkan kita pada bermacam masalah yang menuntut proses kesabaran. Selalu menuntut proses penantian. Dan, tentu saja, memicu hadirnya potensi rasa bosan.

Entah sedang menunggu apa. Entah sedang menanti siapa. Menunggu dan menanti itu niscaya.

Bukankah setelah Duhur kita harus menunggu datangnya waktu Ashar, setelah Ashar kita harus menanti datangnya waktu Maghrib, dan setelah Maghrib kita menunggu lagi hadirnya waktu Isya?

Menanti dan menunggu adalah perkara niscaya dalam hidup. Sebab hakikatnya, hidup adalah proses menunggu sesuatu. Hidup adalah berproses. Karena itu, mencintai proses menjadi satu-satunya siasat untuk tetap bisa menjalani hidup.

Menunggu, menanti, dan bermacam proses dalam hidup adalah esensi tugas ubudiyah manusia dihidupkan di dunia. Bukankah beribadah adalah sebuah proses? Karena itu, mari kita kuat mencintai proses.