Rabu, 20 Mei 2020

Surga Terlalu Luas Untuk Dikaplingi




Saking luasnya surga --- yang juga luasnya rahmat dan pengampunan Allah SWT --- tak akan bisa sebuah kaum mengkaplingi surga untuk kaumnya sendiri. 

Pertemuan ke duabelas sekaligus penutupan Ngaji Pasan kitab Mala Ainun Roat (19/5), membahas bab ار ض الجنة وترابها وحصباؤها (tanah pasir dan kerikil di surga).

Kiai Tsalis, dalam penjelasan kitabnya, mengatakan jika surga beserta perihal yang ada di dalamnya, dibangun dengan sesuatu yang amat mahal. Tanah, pasir dan kerikilnya pun dari sesuatu yang mahal --- dengan ukuran dunia.

Bangunan di surga, sesuai redaksi kitab Mala Ainun Roat, dibangun dari emas, bagian lain dibangun dari perak. Bahkan kerikil, pasir dan lapisan tembok dari minyak misk. Semua itu sesuatu yang mahal di dunia, tapi remeh di surga.

Itu menunjukan betapa surga, lebih menarik dan lebih penting dibanding kemewahan apapun di dunia. Dan itu alasan kenapa saat hidup di dunia saat ini, urusan dunia amat menggoda. Sebab mereka yang kelak mendapat surga, adalah mereka yang terseleksi.

Saat mbalah kitab, Kiai Tsalis bercerita, kelak, pada momen tertentu, para ahli surga berkumpul di kolam telaga yang amat luas. Yang mana, seluruh ahli surga dari mereka yang hadir awal hingga akhir, bisa bertemu. Di telaga itu, ahli surga yang cuci muka atau mandi, bisa tambah indah dan ganteng.

Hadirnya seluruh ahli surga --- dari yang masuk awal hingga masuk akhir --- di telaga tersebut, menunjukan betapa surga amat luas. Sehingga saat seseorang atau sebuah kaum mengkapling surga, justru tak mengakui luasnya rahmat Allah SWT.

"Surga itu terlalu luas, jadi tak ada yang bisa ngapling," ucap Kiai Tsalis.

Kiai bercerita, ada seorang wali yang pernah melintasi sebuah pantai. Di pantai itu, sang wali melihat ada segerombolan orang mabuk-mabukan dan kumpul lelaki-perempuan. Bukannya marah dan berkata buruk, wali itu justru berdoa:

"Ya Allah, bahagiakanlah orang-orang itu di akhirat, seperti engkau membahagiakan mereka di dunia,"

Tentu saja itu doa yang amat bijaksana dari seorang wali. Hanya mereka yang bermaqam makrifatullah yang punya pemikiran seperti itu. Beliau masih mendoakan mereka yang berbuat dosa, karena tahu rahmat Allah amat luas. Tak seperti kita yang sering melaknat orang yang, sementara sedang dalam keadaan buruk.

Luasnya surga dan luasnya rahmat Allah, jelas Kiai Tsalis, menunjukan betapa bermacam kemungkinan masih bisa terjadi. Mereka yang saat ini berbuat dosa, kelak bisa dapat hidayah dan ampunan dari Allah.

Karena itu, melaknat orang yang saat ini masih berbuat jahat dan mengkaplingi surga bukan sifat seorang mukmin.

Karena malam ini malam penutupan Ngaji Pasan kitab Mala Ainun Roat, Kiai Tsalis sedikit bercerita tentang kewalian penulis kitab, Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki Al Hasani yang juga guru beliau.

Menurut Kiai Tsalis, Abuya Sayyid Muhammad merupakan seorang wali. Kewalian itu justru diakui oleh ulama-ulama lain, bahkan para murid Abuya sendiri tidak tahu. Entah karena dekat, atau karena saking seringnya bertemu. Berbagai macam kisah kewalian Abuya sangat banyak diceritakan.

Tak hanya Abuya Sayyid Muhammad, Abuya Sayyid Abbas, adik dari Abuya Sayyid Muhammad yang merupakan guru Kiai Tsalis juga seorang wali.

Kewalian Abuya Sayyid Abbas, kata Kiai Tsalis, terlihat ketika beliau menerangkan sebuah tafsir. Selalu ada ilmu baru yang diterangkan. Bahkan kadang, Abuya sendiri tak menyadari itu. Hingga Abuya sering berpesan pada muridnya untuk selalu mencatat.

"Abuya sering berpesan agar kami tak lupa mencatat. Sebab apa yang beliau jelaskan, kadang diluar apa yang beliau sadari. Tafsir, misalnya, selalu ada tafsir baru yang belum kami (para muridnya) ketahui sebelumnya." Cerita Kiai Tsalis.

Kiai Tsalis juga selalu ingat pesan Abuya, bahwa tidak perlu muluk-muluk soal ilmu. Pelajari yang ada. Yang paling penting dari itu semua, adalah bisa menjaga akhlak dan bisa srawung dengan masyarakat.