Selasa, 05 Mei 2020

Surga Dikelilingi Perkara yang Tidak Disukai Manusia



Surga dikelilingi perkara yang tidak menyenangkan. Tapi, saat kelak diberi kesempatan menikmati surga, manusia akan lupa pada sengsaranya hidup di dunia. 

Ngaji pasan pertemuan kelima semalam (4/5), pembahasan masih pada bab Naimul Jannah --- kenikmatan surga. Sebuah kenikmatan yang membuat orang lupa pernah hidup susah di dunia.

Saat dimasukkan pada kenikmatan surga, hati manusia teramat gembira dan dipenuhi suka cita. Hingga bermacam kesedihan dan kesusahan pun hilang karena terlupakan.

Kiai Tsalis mencontohkan, kesusahan akibat Covid-19 yang sedang melanda seluruh umat manusia misalnya, memang sangat menyusahkan karena punya banyak dampak buruk bagi kehidupan.

Tapi, kesusahan itu kelak akan terlupakan begitu saja bagi orang-orang yang terpilih. Orang seperti apa yang terpilih? Orang yang sabar dengan berbuat baik. Berbuat baik pada manusia maupun berbuat baik (ibadah) pada Allah.

Dan itu bukan perkara mudah. Melainkan perkara yang amat sulit. Baik secara horizontal (antar sesama) maupun vertikal (kepada Allah) amat sulit bagi yang tidak mencoba. Karena itu harus berani mencoba.

Abuya Sayyid Muhammad pernah berkata, surga itu milik Allah yang sangat mahal. Tidak gratis. Karena itu harus diusahakan. Perjalanan menuju surga, diibaratkan seperti berjalan pada malam hari menuju milik Allah yang amat mahal, yakni surga.

Dan orang yang berusaha sekaligus punya kemauan kuat sajalah, yang pasti akan sampai pada tempat yang dituju tersebut.

Orang yang menuju surganya Allah, tidak mudah tertipu syahwat yang dikelilingi api neraka. Sebab, surga dikelilingi sesuatu yang tidak disukai manusia.

Ibadah, amal soleh, sholat, puasa, berbuat baik pada sesama, bukan sesuatu yang disukai oleh manusia. Karena itu, surga diperuntukkan bagi seorang yang dermawan dan berakhlak baik.

Kiai Tsalis menceritakan sebuah riwayat:

Ketika Allah menciptakan surga, Allah meminta Jibril melihatnya. Sesaat setelah melihat itu, Jibril datang dan berkata: Ya Allah, tidak seorangpun manusia yang mendengar kenikmatan-kenikmatan surga, kecuali ingin memasukinya.

Lalu Allah mengelilingi surga dengan perkara-perkara yang tidak disukai manusia, dan meminta Jibril untuk kembali melihatnya, Sesaat setelah melihat itu, Jibril datang dan berkata: Ya Allah, saya takut tak seorangpun yang ingin masuk ke surga.

Begitulah, surga dikelilingi perkara yang tidak disukai manusia. Misalnya, zakat, sholat, puasa, itu perkara yang sangat sulit. Tapi bagaimanapun, itulah perjalanan menuju surga.

"Karena itu, kita harus bersyukur ketika sejak kecil sudah diajarkan beribadah dan berbuat baik. Namun, kita juga tidak boleh sombong." Pungkas Kiai Tsalis.