Sabtu, 02 Mei 2020

Mukadimah Kitab: Santri Ojo Magak!


Dadi santri ojo magak. Maksudnya, jadi santri jangan setengah-setengah. Tapi total. 

Dalam ngaji pasan kitab Mala Ainun Roat pertemuan kedua, Kiai Tsalis membacakan mukadimah kitab. Beliau berkata bahwa kitab Mala Ainun Roat sesungguhnya adalah risalah (berbentuk pesan) yang lebih tipis dibandingkan kitab.

Risalah berbeda dengan kitab. Risalah lebih tipis dibandingkan kitab. Dulu, perbedaan itu sangat ketara. Sebab zaman dulu masih banyak ulama yang mengarang kitab.

Karena sekarang sudah jarang, antara risalah dan kitab sudah tidak terlalu berbeda. Saat ini, risalah seperti Mala Ainun Roat sudah seperti kitab. Mengingat, cakup pembahasan di dalamnya juga banyak.

Mala Ainun Roat, di dalamnya terdapat banyak hadis tentang surga. Dijelaskan pula di dalam mukadimah, beliau Sayyid Muhammad meniru gaya tulis Ibnu Qayyim Al Jauzi.

Dalam penulisan Mala Ainun Roat ini, Abuya Sayyid Muhammad dibantu oleh salah seorang santri asal Indonesia. Tepatnya asal Tuban, bernama Sholahuddin. Nah, Gus Sholah inilah yang membantu Abuya men-takhrij hadis di dalam kitab.

Dalam pembahasan mukadimah, Kiai Tsalis mengatakan jika kelak, di surga, orang akan dikumpulkan dengan yang disukai. Karena itu, para santri harus menyukai sosok yang layak disukai. Layak dicontoh perilaku dan perbuatannya.

Selain itu, pada pertemuan ini, Kiai Tsalis berpesan pada para santri agar malu berbuat maksiat. Sebab sikap malu inilah, yang saat ini banyak terkikis. Banyak orang mengumbar kemaksiatan. Dan itu harus dihindari.

Berbuat maksiat, menurut Kiai Tsalis, jangan dilihat ukuran besar kecilnya. Tapi dilihat bermaksiat pada siapa? Jika bermaksiat pada Allah, jangan dilakukan. Dan benar, bukankah setiap kemaksiatan selalu berhubungan dengan Allah? Karena itu, jangan bermaksiat.

"Santri ojo magak, dadi santri niku ojo magak." Begitu ucap Kiai Tsalis.