Rabu, 06 Mei 2020

Kualitas Berjuang dan Perbedaan Derajat Manusia



Derajat seorang mukmin di surga, ditentukan seberapa besar perjuangan mereka saat hidup di dunia. 

Orang mukmin yang tidak ngapa-ngapain, punya derajat berbeda dibanding mukmin yang masih mau berjuang (dengan harta atau pikiran) di jalan Allah. Perbedaan derajat itu, berbanding lurus dengan apa yang akan dialami kelak, di akhirat.

Setidaknya, mereka yang sekadar syahadat dan punya iman saja, beda dengan mereka yang mau berjuang semasa hidup di dunia. Mereka yang sekadar punya iman, memang sudah beruntung. Tapi masih kalah beruntung dibanding mereka yang mau berjuang di jalan Allah.

Dalam ngaji pasan pertemuan ketujuh semalam (6/5), Kiai Tsalis masih melanjutkan pembahasan tentang bab Darojatan Wamarotibun (درجات ومراتب) --- derajat dan kelas-kelas kenikmatan di surga kelak.

Dalam kitab Mala Ainun Roat dijelaskan, nanti di surga, mata manusia akan disilaukan oleh cahaya. Sependar cahaya yang menjadi pembatas antara kelas-kelas dan derajat di surga.

Ahli surga yang cuma berada di kelas ekonomi, misalnya, tak akan pernah --- meski sekadar --- bisa melihat dan memandang kenikmatan surga di kelas bisnis atau VIP yang berada di atasnya. Di mana kelas tertinggi adalah surga firdaus.

Kalaupun mencoba melihat, mata akan silau dan dipastikan tak akan bisa. Itu agar derajat yang berada di bawah, tak bisa melihat di atasnya. Sementara yang berada di atas, bisa dengan mudah melihat di bawah.

Saat mbalah kitab, Kiai Tsalis menceritakan, ada 100 tingkatan kelas di surga. Di mana, jarak masing-masing tingkat seukuran jarak langit dan bumi. Praktis, mereka yang berada di kelas bawah tak akan bisa melihat ke atas. Mungkin seperti saat kita melihat matahari: ulap.

Tapi sebaliknya, mereka yang berada di kelas atas, bisa dengan mudah memandang atau sekadar melihat-lihat kelas-kelas surga yang berada di bawahnya.  Itulah ganjaran mereka yang berjuang semasa hidup di dunia.

Dijelaskan pula bahwa ada derajat-derajat khusus yang tak sembarang orang bisa mendapatkannya. Yakni seorang pemimpin yang adil, orang yang suka bersilaturahmi dan bersabar saat membina keluarga.

Dalam kitab Mala Ainun Roat juga dijelaskan bahwa Rasulullah Muhammad Saw memberitahu jalan atau cara bagaimana agar sampai ke derajat yang tinggi.

Ada sebanyak tiga cara. Yakni: menyempurnakan wudhu di saat sulit (maksudnya waktu ngantuk atau cuaca sedang dingin-dinginnya), sering berjalan menuju masjid, dan sering menunggu datangnya waktu sholat tiba.