Minggu, 03 Mei 2020

Santri Mutolaah, Ngaji Tak Kenal Lelah



Jiwa santri harus selalu menyediakan ruang mengaji di dalam hati. 

Selain meminta para santriwan-santriwati untuk rajin belajar, para ustadz dan Khodimul Markaz (pengurus pondok) Ponpes Ar-Ridwan Bojonegoro juga harus punya mental pembelajar sepanjang hayat.

Meski sudah tidak remaja lagi, dan meski sudah disibukkan dengan kegiatan di luar kesenangan pribadi, mereka yang berjiwa santri selalu punya "ruang ngaji" di dalam hati.

Ruang ngaji dalam hati, maksudnya semacam simpanan rasa semangat untuk terus belajar. Terus melakukan mutolaah (sinau) atas ilmu yang pernah dipelajari, atau atas ilmu yang akan dipelajari.

Begitulah, para santri senior, atau para Khodimul Markaz Ar-Ridwan memanfaatkan momen bulan ramadhan ini dengan tetap melakukan mutolaah dan mengaji.

Sebab, mutolaah dan semangat untuk terus mengaji, bagi para santri amat penting. Ia pendar cahaya yang mampu menjadi suluh dalam lintasan jalan hidup yang dipenuhi potensi kekeliruan.

Pengasuh Ponpes Ar-Ridwan, Kiai Tsalis  nate dawuh, pesan Abuya yang selalu beliau ingat adalah pentingnya mutolaah (sinau). Para santri harus mutolaah dengan berpegang kitab. Itu sangat penting untuk menghindari kepelesetnya lidah.

Mutolaah, dalam hal ini ngaji, menurut dawuh Kiai Tsalis, sebisa mungkin harus berpegang kitab. Ngaji harus pegang kitab. Mutolaah berpegang kitab merupakan metode Abuya Sayyid Abbas yang selalu dipesankan pada para santri.

Kiai Tsalis pernah dipeseni Abuya Sayyid Abbas agar selalu mutolaah menggunakan kitab. Dan Kiai Tsalis berpesan pada kami, Khodimul Markaz, untuk selalu mutolaah. Dan kalau ngaji berpegang kitab, biar tidak keliru.

Menjadi santri yang bersemangat ngaji dan mutolaah punya garis sanad secara langsung dari Abuya Sayyid Abbas. Karena itu, mari bersemangat menjadi santri mutolaah yang selalu ngaji tak kenal lelah.